TagAceh – Tradisi kuno Peumeunap dan Seumuleng dari Kerajaan Meurehom Daya tahun ini mencetak sejarah besar yang sangat menginspirasi.
Warisan leluhur ini resmi bersiap dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Langkah nyata ini diambil agar nilai luhur warisan nenek moyang tidak pernah pudar ditelan zaman modern. Sekolah kini menjadi rumah baru bagi kelestarian warisan budaya dunia tersebut.
Pelaksanaan acara adat yang sangat sakral ini berlangsung dengan agung di Kabupaten Aceh Jaya. Semua pihak yang hadir merasakan getaran semangat persatuan yang luar biasa kuat. Suasana sakral begitu terasa saat prosesi adat dimulai dari awal hingga selesai. Momen berharga ini membuktikan bahwa jati diri bangsa Indonesia masih hidup subur di dalam hati masyarakat.
Tradisi mulia ini tidak lagi sekadar menjadi tontonan tahunan, melainkan bersiap menjadi ilmu bagi generasi muda. Kehadiran Para Raja dan Zuriat Agung Nusantara. Momen budaya ini menjadi jauh lebih istimewa karena kehadiran para tokoh penting kerajaan.
Berbagai zuriat raja dari seluruh penjuru Aceh dan Nusantara datang berkumpul di Aceh Jaya. Kehadiran para pemimpin adat ini membawa dukungan moral yang sangat besar untuk masa depan pendidikan anak bangsa.
Tokoh-tokoh kerajaan yang hadir dalam acara agung ini adalah: Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph. D (Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se- Nusantara), YTAM Tuanku Muhammad Fauzi, S. Kom, MH (Raja Kejeruan Metar Belad Deli), Tgk. Irwansyah (Kerajaan Tamiang), Teuku Muhammad Nurdin (Kerajaan Peureulak), Teuku Badruddin Syah (Kerajaan Samudra Pasai), Dr. Teuku Rasyidin (Kerajaan Jeumpa), Teuku Iskandar (Kerajaan Pedir), Pati Darmuda (Penasehat Kesultanan Daya Raja), Teuku Marhaidi (Kerajaan Teunom), Teuku Razali (Kerajaan Bu Meulaboh), Teuku Khairizal dan Teuku Rusli (Kerajaan Seunagan), Teuku Nasruddin (Kerajaan Tanah Nata), Teuku Amri (Kerajaan Kuala Batu), dan Sutan Aming Syah (Kerajaan Sinabang)
Teuku Raja Saifullah DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah (Raja Negeri Daya & Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam) menyampaikan rasa bahagianya yang mendalam.
Teuku Raja Saifullah mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh raja yang telah rela berhadir. Apresiasi khusus diberikan kepada Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph. D (Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se- Nusantara), yang rela terbang langsung dari Kota Palembang. Teuku Raja Saifullah menitipkan harapan besar agar pemerintah terus menjaga adat luhur ini agar tidak hilang.
Warisan Luhur yang Diakui oleh Dunia
Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph. D (Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se- Nusantara), memberikan pujian tertinggi bagi tradisi Peumeunap dan Seumuleng ini. Beliau menegaskan bahwa tradisi ini adalah bagian penting dari warisan dunia dalam bab warisan tak benda.
Pemerintah daerah setempat telah menetapkan acara ini sebagai kalender budaya tahunan resmi di Aceh Jaya. Kegiatan mulia ini mampu menyatukan zuriat dari sembilan negeri di Aceh Darussalam dan memperkaya budaya dunia. Banyak pihak ikut menyukseskan acara ini, termasuk Majelis Adat Aceh (MAA) dan perwakilan Wali Nanggroe.

Terobosan Hebat di Dalam Dunia Pendidikan
Peluang emas untuk memajukan pendidikan ini langsung ditangkap oleh seorang budayawan bernama Ridwan, S. Pd. I., MA., M. Pd. Beliau adalah kepala sekolah SMP Darun Nizham sekaligus kandidat doktor Pendidikan Islam di UIN Ar-Raniry.
Ridwan bergerak cepat melakukan koordinasi intensif dengan lima zuriat raja di wilayah Barat Selatan Aceh.
Niat tulus ini mendapatkan sambutan yang sangat hangat dari para zuriat raja demi masa depan anak cucu. Dalam waktu dekat, mereka akan segera menyusun kerja sama resmi berupa Memorandum of Understanding (MoU). Lima zuriat kerajaan yang setuju adalah Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph. D (Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se- Nusantara), Teuku Raja Saifullah DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah (Raja Negeri Daya & Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam), Teuku Marhaidi (Kerajaan Teunom), Teku Nasruddin (Kerajaan Tanah Nata), dan Teuku Amri (Kerajaan Kuala Batu).
Target Nyata Menyambut Tahun Pelajaran Baru
Target besar dari kerja sama sejarah ini dirancang dengan sangat matang, jelas, dan penuh rasa optimis. Program Pendidikan Islam berbasis kearifan lokal ini diprioritaskan berjalan pada semester satu tahun pelajaran 2026-2027.
Pengukuhan inovasi kurikulum baru ini akan menjadi langkah nyata pertama yang ada di Indonesia. Para zuriat raja nantinya akan diundang kembali untuk menghadiri acara penandatanganan MoU secara massal.
Gerakan serentak ini membuktikan bahwa adat dan kearifan lokal bisa berjalan beriringan dengan sekolah modern. Kisah inspiratif dari ujung barat Indonesia ini menjadi cermin indah bagi seluruh daerah di nusantara untuk selalu mencintai jati diri bangsa.
Penulis : Ridwan MA









