Sedekat Mata Putih dan Mata Hitam: KALAM PRABU Hubungkan Kerajaan Daya dan Generasi Digital Aceh

- Jurnalis

Selasa, 2 Juni 2026 - 19:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TagAceh – Sebuah terobosan besar lahir dari rahim Serambi Mekah. Inovasi pendidikan berbasis nurani bernama KALAM PRABU (Kearifan Lokal Akhlak Mulia Pendidikan Religius Anak Berbudaya) resmi mengantongi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kemenkumham RI dengan Nomor Pencatatan 01257949 pada Selasa, 2 Juni 2026.

Kabar baik ini disampaikan langsung oleh Kepala SMP Darun Nizham, Ridwan, S.Pd.I., M.A., M.Pd., melalui sambungan telepon kepada DYMM Paduka Seri Baginda Sultan Saifullah Alaiddin Riayat Syah (Raja Negeri Daya & Pemangku Kesultanan Aceh Darussalam) dan Dato’ Kiam Radja TG. Prof. DR (HC) Fekri Juliansyah, Ph.D. (Ketua Lembaga Dzurriyat Radja Sultan se-Nusantara).

“Alhamdulillah sudah diterima di Kemenkumham, Yang mulia. Semoga ini menjadi awal mewariskan syariat dan budaya kepada generasi muda, menghubungkan kerajaan dengan penerus bangsa sedekat mata putih dan hitam, sesuai harapan Yangmulia” lapor Ridwan dengan penuh haru.

Strategi Jemput Rangkul Generasi Digital

Lahirnya KALAM PRABU bermula dari rapat koordinasi terbatas pasca-acara adat Peumeunap dan Seumuleung. Menghadapi era digital, Raja Saifullah mengambil inisiatif strategis untuk “jemput rangkul” generasi muda agar tidak kehilangan identitas.

Dalam diskusi maraton hingga tengah malam, Radja bersama Dato’ Guru dan tokoh pendidikan merumuskan visi “tajaga nanggroe yang meuhukom, Meuadat dan Meubudaya”.

Baca Juga :  Maju Jalur Independen, Pasangan H2D Resmi Mendaftar ke KIP 

Ridwan, yang juga kandidat Doktor Pascasarjana UIN Ar-Raniry, mengaku terpukau dengan kefasihan Radja dalam menuturkan sejarah.

“Berdiskusi dengan Beliau seperti membaca 1.000 judul buku sejarah dunia. Saya merasa seperti belajar 22 SKS langsung dalam satu malam,” ungkap Ridwan yang rela pulang ke Aceh Jaya hingga pukul 5 pagi demi tuntasnya pedoman ini.

Mengubah Sekolah Menjadi Rumah Budaya

KALAM PRABU secara sistemik mengintegrasikan nilai spiritualitas Islam dan hukum adat ke dalam kurikulum formal. Inovasi ini bertumpu pada dua pilar utama: Pertama (Manajemen Emosi & Spiritual). Menggunakan tradisi Kenduri dan Peusijuek. Fase suka (siswa baru/kelulusan) dirayakan dengan Peusijuek untuk menanamkan rasa syukur dan tawadhu. Fase duka atau konflik diselesaikan melalui Peusijuek Keugrahan (pemulihan trauma) dan Peusijuek Damai sebagai metode anti-bullying restoratif tanpa trauma emosional.

Kedua, (Kepemimpinan & Sosial). Mengadopsi filosofi Peumeunap untuk melatih kesabaran dan budaya antre, serta Seumuleung (prosesi menyuapi raja) untuk melatih mental pemimpin yang mengayomi dan mengutamakan pelayanan publik.

Keunggulan lain kurikulum ini adalah sifatnya yang Kontekstual Temporal, di mana kegiatan sekolah diselaraskan dengan Kalender Masehi dan Kalender Hijriah Kemenag RI, seperti pelaksanaan Kanduri Apam setiap bulan Rajab untuk melatih kedermawanan siswa.

Baca Juga :  Antara Plat Kendaraan dan Langkah Kaki yang Hilang

SMP Darun Nizham Jadi Pilot Project

Kemitraan ini bukan sekadar di atas kertas. SMP Darun Nizham siap menjadi sekolah pertama yang menerapkan kurikulum KALAM PRABU mulai Semester 1 Tahun Pelajaran 2026/2027 mendatang.

Berbagai agenda besar telah disiapkan. Pada Agustus 2026, akan digelar Festival Anak Penutur Sejarah. Para juara akan mendapatkan kejutan khusus berupa kesempatan bertemu dan menerima hadiah langsung dari tangan Raja.

Puncaknya, pada 10 September 2026, akan digelar pengukuhan KALAM PRABU yang rencananya dihadiri oleh 5 Raja dari 9 Raja Negeri Aceh Darussalam. Selain itu, sebuah film dokumenter sejarah juga sedang dipersiapkan di bawah bimbingan langsung Dato’ Kiam Radja yang berpengalaman di dunia sinematografi sejarah.

Meski menghadapi cibiran dari segelintir orang, Ridwan tetap teguh mengemban titah Radja. “Pertemuan kita sudah diatur oleh Allah, begitu juga negeri ini. Mari kita jaga bersama agar generasi penerus menjadi generasi yang Carong (cerdas), Meudab (berakhlak), dan Meubudaya, (berbudaya)” tutupnya optimis.

Penulis : Ridwan MA

Berita Terkait

Sembilan Negeri Bersatu di Ujung Sumatera
Skandal Terlarang Dua ASN Pengawas Sekolah Berujung Pemecatan
SMP Darun Nizham Bangkit dari Banjir, Wujudkan Sekolah Tangguh Bencana “SANTANA”
Antara Plat Kendaraan dan Langkah Kaki yang Hilang
Ini Yang Harus Dilakukan ASN PPPK Setelah Pelantikan dan Terima SK
Ini Perbedaan PPPK Paruh Waktu dan Penuh Waktu
Arti Penting Mitigasi Bencana Dalam Industri Pariwisata dan Membangun Pariwisata Aceh Jaya Yang Berkelanjutan
Atasi Ternak Berkeliaran di Jalan Raya, Yara Perwakilan Aceh Jaya Sarankan Solusi Ini

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 19:09 WIB

Sedekat Mata Putih dan Mata Hitam: KALAM PRABU Hubungkan Kerajaan Daya dan Generasi Digital Aceh

Sabtu, 30 Mei 2026 - 12:19 WIB

Sembilan Negeri Bersatu di Ujung Sumatera

Jumat, 26 Desember 2025 - 19:41 WIB

Skandal Terlarang Dua ASN Pengawas Sekolah Berujung Pemecatan

Sabtu, 6 Desember 2025 - 00:02 WIB

SMP Darun Nizham Bangkit dari Banjir, Wujudkan Sekolah Tangguh Bencana “SANTANA”

Minggu, 5 Oktober 2025 - 13:20 WIB

Antara Plat Kendaraan dan Langkah Kaki yang Hilang

Berita Terbaru

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; sv:16.2.10.0.W20;
module: photo;hw-remosaic: false;touch: (0.31398112, 0.45854154);sceneMode: 2;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo:  ;confidence:  ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 37;

Feature

Saat Pantai Nisero Menjadi Rumah Bahagia bagi Keluarga

Sabtu, 30 Mei 2026 - 18:44 WIB

Artikel

Sembilan Negeri Bersatu di Ujung Sumatera

Sabtu, 30 Mei 2026 - 12:19 WIB