TAGACEH – SMP Darun Nizham, sebuah lembaga pendidikan berbasis pesantren di Kecamatan Teunom, menjelma menjadi contoh inspiratif bagi dunia pendidikan Aceh dan Indonesia. Sekolah ini menunjukkan bahwa bencana bukanlah akhir, melainkan awal pembentukan sistem “Sekolah Aman Tanggap Bencana” atau SANTANA yang lebih kuat dan terarah.
Bencana banjir melanda tanpa tanda, menghentak kegiatan khatam Qur’an santri di Pasi Raya. Luapan Sungai Teunom naik cepat, memutus akses jalan Teunom–Pasi Raya hingga membuat sejumlah santri harus menginap darurat akibat terisolasi banjir.
“Situasinya berubah sangat cepat. Kami terpaksa bermalam di Pasi Raya karena akses ke asrama terputus total,” kenang Tgk. Jhon Agusni, salah satu pengurus santri.
Keesokan harinya, koordinasi cepat dengan tim Damkar Teunom memungkinkan para santri kembali ke asrama. Namun setibanya di lokasi, kerusakan parah terlihat jelas. Lima ruang kelas terendam, 50 persen asrama putri dan hampir seluruh asrama putra tergenang air. Kasur para santri mengapung, menandakan betapa dahsyatnya dampak banjir.
Dapur umum pesantren yang menjadi pusat logistik turut terendam. Pihak sekolah segera membuka dapur darurat di balai depan dayah induk yang memiliki elevasi lebih tinggi untuk memastikan kebutuhan santri tetap terpenuhi.
Keunggulan SMP Darun Nizham dalam menghadapi bencana terletak pada kesiapan sumber daya manusianya. Program SANTANA tidak sekadar slogan, melainkan sistem kesiapsiagaan yang telah dilatihkan secara intensif kepada santri dan tenaga pendidik.
Begitu banjir surut, para santri langsung bergerak tanpa menunggu instruksi panjang. Berbekal pelatihan dari FK Tagana Provinsi Aceh dan BPBK Aceh Jaya, mereka kembali berkoordinasi dengan Damkar Teunom untuk membersihkan lumpur di ruang kelas dan asrama.
Kepala SMP Darun Nizham, Ridwan, S.Pd.I., MA., M.Pd., menegaskan bahwa kesiapsiagaan adalah kunci keberhasilan mereka.
“Kami tinggal di wilayah rawan bencana, sehingga ketangguhan kebencanaan sama pentingnya dengan kecerdasan akademik. Pelatihan dari Tagana dan BPBK adalah investasi terbaik bagi kami,” ujarnya.
“Saat bencana terjadi, sistem komando SANTANA langsung aktif. Semua tahu tugasnya, sehingga kepanikan bisa ditekan dan respons berjalan cepat.”tambah Ridwan.
Kerusakan fisik memang tak terhindarkan. Laboratorium IPA mengalami kerusakan berat, pagar belakang roboh, beton cuci tangan jebol, dan puluhan meja kursi holompic rusak terendam. Namun kegiatan belajar tetap berjalan melalui skema pembelajaran darurat di lokasi sementara.
Situasi semakin menantang ketika Ujian Akhir Semester (UAS) 1 tiba. Proses normalisasi pasca-banjir berjalan lambat, sementara ketersediaan logistik menipis—bahan makanan, minyak, dan gas sulit diperoleh, ditambah pasokan listrik yang sering padam.
Di bawah kepemimpinan Ridwan, serta koordinasi dengan yayasan dan dewan guru, SMP Darun Nizham berhasil menerapkan manajemen krisis yang efektif. Meski serba terbatas, UAS tetap berjalan sesuai jadwal tanpa kendala berarti.
“Ini bukti kolaborasi antara yayasan, guru, santri, dan masyarakat. Walau bahan baku, listrik, dan logistik terbatas, ujian tetap berlangsung lancar,” ungkap Ridwan.
Sulaiman, S.Pd., Wakil Kepala Bidang Kurikulum, turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat.
“Terima kasih kepada semua pihak yang bekerja keras sejak awal bencana hingga selesai ujian. Semangat ini menjadi energi bagi kita untuk terus melangkah,” ujarnya.
Model Pendidikan Tangguh Bencana dari Teunom
Kisah SMP Darun Nizham menjadi gambaran nyata tentang ketangguhan sebuah institusi pendidikan menghadapi bencana. Lebih dari sekadar pemulihan fisik, sekolah ini berhasil membangun budaya kesiapsiagaan yang terstruktur di lingkungan pesantren.
Model SANTANA dinilai layak menjadi rujukan nasional, membuktikan bahwa dengan sistem yang kuat, pelatihan yang tepat, dan sinergi yang baik, sekolah mampu bangkit dari bencana dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain.
Kisah kebangkitan ini menjadi pengingat bahwa setiap bencana selalu membawa peluang untuk membangun sesuatu yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi masa depan.(*)









