Sepak Bola dan Wajah Baru Nasionalisme Anak Muda

- Jurnalis

Kamis, 18 Juni 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TAGACEH – Katanya, anak muda sekarang semakin jauh dari nasionalisme. Mereka dianggap lebih mengenal budaya luar, lebih hafal nama pemain klub bola eropa dibanding nama pahlawan nasional, dan lebih sibuk dengan media sosial daripada memikirkan bangsanya sendiri. Tidak sedikit pula yang pesimis bahwa generasi muda saat ini sudah kehilangan rasa cinta terhadap Indonesia.

Entah benar atau tidak, saya justru melihat hal yang berbeda. Menariknya, pelajaran itu saya dapatkan dari sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu saya ikuti: sepak bola.

Terus terang, saya bukan penggemar sepak bola. Saya tidak terllau paham soal formasi permainan, aturan offside, atau aturan bola lainnya. Nama-nama pemain Timnas Indonesia pun hanya beberapa yang saya tahu. Namun, ada satu hal yang selalu menarik perhatian saya setiap kali Timnas Indonesia bertanding yaitu euforianya.

Bagi sebagian orang, sepak bola hanyalah permainan sebelas orang melawan sebelas orang lainnya. Tetapi bagi saya, sepak bola justru menajdi tempat yang memperlihatkan bagaimana rasa cinta terhadap Indonesia masih hidup di kalangan anak muda dan seluruh masyarakat Indonesia. Sesuatu yang jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Orang-orang dari berbagai daerah, suku, dan latar belakang berkumpul dengan tujuan yang sama: mendukung Indonesia. Warung kopi penuh dengan anak muda yang mengadakan nonton bareng. Linimasa media sosial yang biasanya dipenuhi perdebatan mendadak berubah menjadi lautan merah putih. Semua seolah melupakan perbedaan dan bersatu dalam satu nama, Indonesia.

Antuasiame itu ternyata bukan sekadar perasaan biasa. Dilansir dari DetikSport, Indonesia menjadi negara dengan jumlah penonton terbanyak pada putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona asia. Lebih dari 326 ribu penonton hadir langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno sepanjang laga kandang timnas Indonesia. Jumlah tersebut bahkan melampaui negara-negara yang selama ini dikenal sebagai kekuatan sepak bola asia, seperti Jepang dan Korea Selatan.

Baca Juga :  Kampus sebagai Tempat Menguji Nasionalisme

Namun, yang membuat saya kagum sebenarnya bukan permainannya. Saya justru lebih menikmati melihat semangat para suporternya. Kreativitas mereka dalam membuat koreografi, menyanyikan lagu-lagu dukungan, hingga memenuhi stadion dengan warna merah putih membuat saya sadar bahwa rasa memiliki terhadap Indonesia masih sangat kuat.

Salah satu momen paling membekas bagi saya terjadi ketika Indonesia menghadapi Jepang. Sebelum pertandingan dimulai, suporter Indonesia menampilkan koreografi yang bergambar Godzila (monster ikonik Jepang) melawan Gundala.

Diatasnya tertulis “Untungnya ku tak pilih menyerah” potongan lagu Bernadya yang sedang hits waktu itu.

La Grande mencoba menunjukkan kepada suporter Jepang, bahwa Timnas Indonesia tetap berani melawan Timnas Jepang, meskipun tahu kekuatannya (Gundala) tidak sebanding dengan Godzila (Jepang) tapi “untungnya ku tak pilih menyerah”.

Momen ini ternyata juga menarik perhatian suporter Jepang, banyak yang memuji terlebih setelah mereka menari tahu u arti tulisan “Untungnya ku tak pilih menyerah”. Paling berkesan lagi setelah pertandingan selesai. Indonesia memang kalah. Akan tetapi, ribuan suporter tidak langsung pulang.

Mereka tetap berada di tribun hingga benar-benar selesai. Berdiri di tempatnya, bersama-sama menyanyikan lagu Tanah Airku cipt. Ibu Soed. Suporter Jepang mengaku merinding dan menagis haru merasakan euforianya, melihat bagaimana suporter Indonesia tetap memberikan dukungan meskipun tim yang mereka cintai baru saja menelan kekalahan.

Melihat pemandangan itu, saya jadi bertanya-tanya sendiri. Benarkah anak muda Indonesia sudah jauh dari nasionalisme?

Sebab saya justru melihat sebaliknya. Saya melihat anak-anak muda yang rela datang dari berbagai daerah, menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendukung tim nasional. Saya melihat mereka bernyanyi bersama, membuat koreografi yang luar biasa, dan tetap mendukung tanpa memandang hasil akhir pertandingan.

Baca Juga :  Dokarim-Basajan Latih Penulisan Sastra Bagi Anak Muda Aceh Barat

Mungkin bentuk nasionalisme memang tidak lagi sama seperti dulu. Nasionalisme hari ini tidak sellau hadir dalam bentuk upacara, pidato, atau slogan-slogan besar. Kadang ia hadir di tribun stadion, di warung kopi tempat orang-orang mengadakan nonton bareng, atau di suara ribuan orang yang menyanyikan Tanah Airku dengan mata yang berkaca-kaca.

Saya mungkin bukan penggemar sepak bola. Tetapi dari euforia yang diciptakannya, saya belajar bahwa rasa bangga menjadi orang Indonesia ternyata masih hidup. Dan barangkali, nasionalisme memang tidak hilang. Ia hanya tumbuh dengan cara yang berbeda, mengikuti zaman dan generasinya.

Di tengah kacau balau kondisi negara, di khianati oleh pemerintah yang dulu dipilihnya, rakyat Indonesia mencoba tetap menjaga kewarasan. Disaat banyak orang-orang luar yang menunggu kapan Indonesia bubar, rakyatnya tetap bertahan. Masih memiliki cita-cita bahwa keadaan akan menjadi lebih baik. Kekewaan terhadap penguasa tidak semerta-merta menghapus rasa memiliki, rasa persatuan generasi muda.

Barangkali, di situlah letak nasionalisme generasi sekarang. Mereka boleh marah kepada pemerintah, boleh kecewa terhadap berbagai kebijakan, bahkan boleh mengkritik keadaan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Namun, di balik semua itu, mereka tetap mencintai Indonesia.

Sebab mencintai tanah air tidak berarti harus membenarkan semua yang dilakukan oleh penguasanya. Justru karena masih peduli dan berharap, mereka memilih untuk tetap bertahan, mengkritik, dan memperjuangkan Indonesia yang lebih baik, alih-alih menyerah dan membiarkannya runtuh.

 

Penulis Yusra Safitri

Mahasiswi STAIN Meulaboh

Berita Terkait

Kampus sebagai Tempat Menguji Nasionalisme
Budaya sebagai Jembatan Nasionalisme Generasi Muda

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 23:00 WIB

Sepak Bola dan Wajah Baru Nasionalisme Anak Muda

Kamis, 18 Juni 2026 - 21:42 WIB

Kampus sebagai Tempat Menguji Nasionalisme

Kamis, 18 Juni 2026 - 13:21 WIB

Budaya sebagai Jembatan Nasionalisme Generasi Muda

Berita Terbaru

Opini

Sepak Bola dan Wajah Baru Nasionalisme Anak Muda

Kamis, 18 Jun 2026 - 23:00 WIB

Opini

Kampus sebagai Tempat Menguji Nasionalisme

Kamis, 18 Jun 2026 - 21:42 WIB

Opini

Budaya sebagai Jembatan Nasionalisme Generasi Muda

Kamis, 18 Jun 2026 - 13:21 WIB