TAGACEH – Apakah kampus hanya sekadar tempat menuntut ilmu dan mengejar nilai semata? atau justru menjadi ruang paling nyata untuk menguji dan menumbuhkan rasa Nasionalisme di kalangan anak muda seperti saya?.
Selama ini, masih banyak orang di luar sana yang memandang mahasiswa hanya dari satu sisi saja. Bahwa mahasiswa itu cuma pandai berdemo, berorasi di jalan, dan bikin keributan tanpa solusi. Ada juga yang menganggap kami hanya sebagai orang yang berjuang semata-mata demi mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi, lulus tepat waktu, dan segera mencari pekerjaan demi kepentingan diri sendiri, tanpa peduli apa yang terjadi di sekitar. Saya merasa anggapan itu terlalu sempit dan tidak sepenuhnya benar.
Menurut saya, kampus itu ibarat miniatur Indonesia. Yang mana didalamnya terdapat banyak perbedaan dan disanalah rasa nasionalisme benar-benar di uji secara nyata, bukan cuma lewat pidato ataupun simbol semata, tetapi lewat keseharian yang kami jalani sebagai mahasiswa. Bagi saya kampus bukan sekadar tempat mencari gelar, melainkan lapangan latihan yang nyata untuk menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab.
Salah satu bukti paling nyata bahwa kampus adalah tempat menguji Nasionalisme terlihat dari keberagaman yang ada di dalamnya. Satu kampus saja sudah hampir menggambarkan kondisi Indonesia secara keseluruhan. Yang mana di dalamnya berkumpul mahasiswa yang berasal dari berbagai penjuru daerah, setiap orang membawa latar belakang yang berbeda-beda, ada yang menggunakan bahasa daerah yang berbeda, memiliki kebiasaan hidup yang tidak sama, menganut keyakinan yang beragam, bahkan memiliki karakter dan cara pandang yang kadang bertolak belakang.
Dalam situasi seperti inilah semboyan Bhinneka Tunggal Ika benar-benar diuji maknanya. Apakah kita mampu duduk berdampingan, saling menghormati, dan bekerja sama meski tidak memiliki kesamaan dalam banyak hal? Jika di lingkungan kampus saja kita bisa hidup rukun dan tidak saling membeda-bedakan, itu artinya kita sudah melaksanakan satu pilar utama Nasionalisme. Sebaliknya, jika di antara teman sendiri saja masih ada rasa tidak suka karena perbedaan, bagaimana mungkin kita bisa menjaga persatuan bangsa yang jauh lebih luas dan beragam?.
Selain berlajar hidup bersama dalam perbedaan, saya juga sadar bahwa menjadi mahasiswa bukan soal mengumpulkan angka di transkip nilai. Namun, ternyata ilmu yang sudah didapatkan di kampus tidak berhenti hanya untuk kepentingan diri sendiri.
Ada banyak kesempatan untuk mengamalkannya demi orang lain. Misalnya saat melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saya melihat saat kakak leting saya turun langsung ke desa-desa, bertemu dengan warga, dan mencoba membantu menyelesaikan masalah yang mereka hadapi, mulai dari pertanian, pengelolaan lingkungan, hingga pendidikan anak-anak setempat.
Begitu juga saat menyusun skripsi atau melakukan penelitian. Banyak topik yang bisa diangkat untuk menjawab tantangan yang dihadapi bangsa, mulai dari masalah lingkungan, pendidikan, hingga pengembangan ekonomi masyarakat.
Hasil karya itu tidak hanya berakhir di lemari perpustakaan, tetapi bisa menjadi masukan atau solusi yang bermanfaat bagi kemajuan daerah dan negara. Ketika ilmu yang didapatkan digunakan untuk membantu orang lain dan membangun lingkungan sekitar, itulah wujud cinta tanah air yang paling nyata.
Tentu saja perjalan ini tidak selalu mulus, saya juga melihat tantangan yang ada di sekitaran kampus. Yang mana masih ada teman-teman yang hanya fokus pada urusan pribadi, menganggap nasionalisme itu hal yang tidak penting. Ada juga yang mudah terprovokasi isu-isu yang dapat memecah belahkan, atau lebih mengagungkan gaya hidup dan budaya dari luar, sampai lupa bahwa kita punya kekayaan sendiri yang tak kalah hebat. Namun, di tengah tantangan inilah saya belajar memegang teguh dalam bersikap.
Saya sadar, rasa cinta tanah air tidak harus dimulai dengan hal-hal yang besar, tetapi ia bisa dimulai dari hal yang sederhana, seperti datang ke kelas tepat waktu, menghormati dosen, menghargai sesama teman, tidak menyebarkan hal-hal yang tidak benar, dan menggunakan waktu belajar sebaik mungkin.
Jadi, benar adanya bahwa kampus adalah miniatur Indonesia, dan di sanalah rasa nasionalisme diuji paling nyata. Ia tidak terlihat dari seberapa keras kita berorasi atau seberapa tinggi nilai yang kita dapatkan, melainkan dari sikap kita menghargai perbedaan dan seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan lewat ilmu yang kita dimiliki. Kalau kita bisa menjaga persatuan, memanfaatkan ilmu yang ada, dan memelihara jati diri sejak di lingkungan kampus, maka kita sudah berusaha menjadi bagian dari generasi yang bisa menjaga dan membangun negeri ini ke depannya.
Bagi saya, menjadi mahasiswa berarti memiliki kesempatan emas untuk melatih diri menjadi warga negara yang tangguh dan siap membangun negeri. Semakin banyak mahasiswa yang menyadari hal ini dan menerapkannya, semakin kokoh pula pondasi bangsa ini menghadapi perubahan zaman yang makin cepat.
Sebagai mahasiswa, kita harus bertekad tidak hanya membawa ijazah saat lulus nanti, tapi juga membawa semangat nasionalisme yang nyata, siap bekerja membangun daerah sendiri maupun seluruh Indonesia, agar bangsa ini tetap berdiri tegak dan dihormati dunia.
Penulis Lindawati
Mahasiswi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam STAIN Meulaboh









