TAGACEH – Ikatan Pelajar Mahasiswa Aceh Jaya (Ipelmaja- Meulaboh) menyatakan sikap kritis terhadap minimnya kontribusi perusahaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Barajaya (Perseroda) terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), meski telah menyerap anggaran miliaran rupiah sejak didirikan.
Hal itu dikatakan oleh Ketua IPELMAJA Meulaboh, M. Farhan Ridha (Adek Nazsry) kepada tagaceh.com, Jumat (25/7/2025).
Dia menilai, PT Barajaya sudah lama berjalan tanpa arah yang jelas, sehingga perlu penjelasan secara detail dan menyeluruh penyebab tidak berjalan unit usaha yang telah digagas oleh perusahaan selama ini.
“Kami mahasiswa tidak akan diam melihat anggaran daerah dihambur-hamburkan tanpa hasil. PT Barajaya harus diaudit secara menyeluruh, dan jika perlu, dilakukan RUPS-Luar Biasa untuk mengganti direksi,” tegas Adek Nazsry dalam keterangan tertulis, Kamis (24/7/2025).
Jika alasan PT Barajaya masih proses pengembangan, kata dia, tidak dapat lagi diterima sebagai pembenaran karena telah berjalan selama beberapa tahun.
“Setelah lima tahun lebih tidak bisa menghasilkan dividen atau minimal membiayai operasional sendiri, maka ada kegagalan sistemik dalam perencanaan dan pelaksanaannya yang gagal,” tambahnya.
Untuk itu, dia meminta kepada Pemkab dan DPRK Aceh Jaya untuk mengudit keuangan dan operasional secara terbuka dan independen.
“laporan keuangan dan hasil audit disampaikan ke publik sesuai amanat UU No. 14 Tahun 2008, serta mengevaluasi kinerja dan restrukturisasi direksi melalui RUPS-Luar Biasa,” tambahnya.
IPELMAJA Meulaboh juga mempertanyakan sikap diam pemerintah daerah dan legislatif terhadap polemik ini. Padahal, sudah saatnya ada tindakan konkret, bukan lagi wacana evaluasi yang tak kunjung dilakukan.
“PT Barajaya bukan milik segelintir orang. Ia milik rakyat Aceh Jaya. Jika uang rakyat digunakan tanpa hasil, itu pengkhianatan terhadap amanah publik,” pungkas Adek.
Penulis : Redaksi









