Membasuh Luka Perpisahan dengan Hujan Buatan

- Jurnalis

Selasa, 12 Mei 2026 - 00:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TagAceh – Alam semesta seolah sedang menuliskan narasinya sendiri di SMPS Darun Nizham (Senin, 11 Mei 2026). Di bawah langit yang menjadi saksi peringatan World Ego Day (Hari Ego Sedunia) dan World Migratory Bird Day (Hari Burung Bermigrasi), sebuah peristiwa besar meletus bukan sebagai seremoni belaka, melainkan sebagai manifesto peradaban pendidikan yang menghidupkan jiwa.

Hari itu, suasana sekolah tidak seperti biasanya. Ada getaran frekuensi yang berbeda ketika inovasi SANDARAN (Santri Sadar Kebakaran), SANTANA (Sekolah Aman Tangguh Bencana), dan SIPUTRI (Silaturrahmi dan Peusijuek Santri) berpadu dalam satu tarikan napas. Ini adalah kisah tentang bagaimana pendidikan melampaui teks-teks buku, menjadi sebuah pengalaman belajar untuk hidup bersama (learning to live together).

Keunikan acara ini sudah terasa sejak detik pertama. Alih-alih menggunakan protokol formal yang kaku, panggung utama dikuasai oleh empat orang siswa pilihan yang bertugas sebagai Master of Ceremony (MC). Dengan suara melengking yang tertata dan penuh percaya diri, mereka memandu alur kegiatan dengan ritme yang memukau.

Puncaknya adalah saat pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sari tilawah, hingga kumandang Shalawat Badar. Tidak tanggung-tanggung, 5 siswa terlatih berdiri dalam barisan, mengeluarkan harmoni suara karismatik yang meneduhkan hati.

Getaran suara mereka bukan sekadar bunyi, melainkan doa yang merambat di antara pepohonan sekolah, menciptakan atmosfer magis yang mempersatukan emosi semua yang hadir.

Suasana haru mulai pecah dan tak terbendung saat Ridwan, S.Pd.I., MA., M.Pd., Kepala SMPS Darun Nizham yang juga Kandidat Doktor Pendidikan Pascasarjana UIN Ar-Raniry, berdiri di podium. Sosok tangguh yang biasanya vokal dalam inovasi ini mendadak kelu. Air matanya tumpah di hadapan ratusan pasang mata.

“Hari ini, hati saya seperti teriris sembilu. Ada rasa rela namun tak rela harus melepaskan mereka,” ucapnya dengan suara bergetar.

Ungkapan itu ditujukan kepada tiga guru luar biasa yang memasuki masa purnatugas: Ibu Dra. Zulmaidar, Bapak Sulaiman, S.Pd., dan Ibu Farida, S.Pd.

Bagi Ridwan, mereka bukan sekadar rekan guru, melainkan pilar yang telah bersama-sama membangun fondasi sekolah selama bertahun-tahun. Perpisahan dengan para guru purnatugas ini bertepatan dengan pelepasan santri kelas IX, menciptakan akumulasi emosi yang menyesakkan dada namun penuh makna.

Baca Juga :  Pesona Pantai Jabi

Momen paling menggetarkan jiwa terjadi ketika perwakilan siswa kelas IX, Adilla Marsya dan Nadila Safriani, maju ke depan. Sebagai komandan regu pramuka dan atlet berprestasi, mereka yang biasanya terlihat garang di lapangan, kini tertunduk lesu dengan suara parau. Mereka memohon maaf atas segala instruksi yang mungkin tak dipahami dan rasa terima kasih karena guru-guru tak pernah lelah mengulang sapa.

Ketegaran Bapak Sulaiman, S.Pd., seorang pelatih yang dikenal kekar dan tegas, akhirnya runtuh. Saat ia menerima piala Coaching Terbaik dari para siswa, ia tertegun. Siswa menghampirinya dan membisikkan kata-kata yang membuat seisi aula terisak.

“Hari ini trophy ini bercerita, peluhmu menjadikan kami sang juara. Hanya Engkaulah yang lebih pantas menggenggam piala ini sebagai simbol pejuang pendidikan sesungguhnya.”ujarnya.

Meski sudah purnatugas, dedikasi Bapak Sulaiman tak luntur, ia tetap membimbing siswa hingga meraih berbagai juara di turnamen bergengsi. Di atas panggung, air matanya menjadi penjelasan paling jujur atas kasih sayang seorang pendidik kepada anak didiknya.

Cerita unik juga datang dari Ibu Farida, S.Pd. Sosok di balik layar yang membawa SMPS Darun Nizham meraih Juara I Inovasi Terbaik dua tahun berturut-turut di ajang Pena Jaya.

Farida dikenal sebagai sosok dengan integritas yang nyaris mustahil ditemukan.

Kepala Sekolah menceritakan sebuah kisah yang membekas: suatu kali, dalam sebuah kegiatan besar, Farida yang mengelola anggaran berhasil menghemat dana dengan sangat presisi. Sisa uang yang hanya sedikit itu tidak ia simpan, melainkan ia belikan garam untuk dibagikan kepada seluruh guru.

“Butiran garam itu adalah saksi kejujuran amanahnya yang luar biasa langka,” kenang Ridwan.

Farida menutup pengabdiannya dengan meninggalkan standar moral yang tinggi bagi generasi penerus.

Untuk menetralisir kesedihan, acara berlanjut ke sesi yang lebih dinamis. Bapak Ismail, S.Pd., M.Pd., Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana Aceh Jaya, hadir bersama tim Damkar Unit Teunom.

Kehadiran mereka membawa armada pemadam dan peralatan lengkap, seolah ingin menyapu air mata dengan semangat baru.

Inovasi SANDARAN (Santri Sadar Kebakaran) dipraktikkan secara langsung. Tidak hanya teori, siswa kelas IX dan para guru purnatugas diajak memegang APAR (Alat Pemadam Api Ringan). Bahkan, momen paling seru terjadi saat siswa dan guru purnatugas berpadu memegang selang dari mobil pemadam kebakaran untuk memadamkan api yang berkobar di lapangan.

Baca Juga :  Bea Cukai dan Satpol PP Aceh Jaya Sita 62 Ribu Batang Rokok Ilegal

Ini adalah simbolisasi bahwa meski mereka pergi, mereka meninggalkan bekal keselamatan dan keberanian bagi para santri.

Acara ditutup dengan tradisi Peusijuek (tepung tawar) yang dipimpin oleh Tgk. Rajudin (Pakcek), imam Masjid Tanoh Anoe yang suaranya melengking merdu menyayat kalbu.

Para guru purnatugas dan siswa duduk bersimpuh di atas tikar yang sama, menerima suapan nasi ketan dan percikan air dari dedaunan oen sinijuek sebagai lambang ketulusan dan kedamaian hati.

Namun, kejutan paling tak terduga terjadi di akhir sesi. Saat suasana sedang syahdu dengan salaman dan maaf-memaafkan, Kepala Sekolah memberikan sandi isyarat rahasia. Sambil berlari mengamankan perangkat suara (sound system), ia memberi komando kepada tim Damkar di atas ambulans.

Tiba-tiba, “hujan deras” buatan dari selang pemadam menyiram seluruh peserta di halaman sekolah. Suasana haru seketika berubah menjadi tawa riang. Guru, siswa, dan staf mandi bersama di bawah guyuran air damkar hingga basah kuyup. Sedihnya perpisahan sekejap sirna, berganti dengan kepuasan dan keceriaan yang meledak. Mereka berfoto bersama di atas mobil pemadam, menciptakan memori abadi yang tak akan pernah lekang oleh waktu.

Kegiatan di SMPS Darun Nizham ini membuktikan bahwa sekolah bukan sekadar gedung dan kurikulum. Melalui kolaborasi lintas sektor—antara pendidikan, kebencanaan, dan tokoh agama—sekolah ini telah menciptakan ekosistem belajar yang utuh.

Seiring dengan filosofi Burung Bermigrasi yang pindah untuk mencari kehidupan yang lebih baik tanpa melupakan asalnya, para guru purnatugas dan santri kelas IX melangkah pergi dengan kepala tegak. Mereka membawa api kesadaran dari SANDARAN, ketangguhan dari SANTANA, dan kelembutan hati dari SIPUTRI.

Di SMPS Darun Nizham, perpisahan bukanlah akhir, melainkan sebuah simfoni inovasi yang akan terus bergema, mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati adalah tentang memanusiakan manusia dengan cinta, kejujuran, dan kesiapsiagan.

Penulis : Ridwan MA

Berita Terkait

Menikmati Senja di Ujung Pantai Lhoknga
Kenduri Apam Rajab, Cara SMP Darun Nizham Menanamkan Siaga Bencana
Si Mata Biru Keturunan Portugis di Aceh Jaya
Makna Bibalik Motif “Pinto Aceh”
Pesona Pantai Jabi

Berita Terkait

Selasa, 12 Mei 2026 - 00:46 WIB

Membasuh Luka Perpisahan dengan Hujan Buatan

Kamis, 16 April 2026 - 12:13 WIB

Menikmati Senja di Ujung Pantai Lhoknga

Senin, 19 Januari 2026 - 16:51 WIB

Kenduri Apam Rajab, Cara SMP Darun Nizham Menanamkan Siaga Bencana

Selasa, 19 Agustus 2025 - 21:57 WIB

Si Mata Biru Keturunan Portugis di Aceh Jaya

Selasa, 19 Agustus 2025 - 09:02 WIB

Makna Bibalik Motif “Pinto Aceh”

Berita Terbaru

Video

Part 2 – Pria Kaya memberi Mahar Mahal

Selasa, 12 Mei 2026 - 01:08 WIB

Feature

Membasuh Luka Perpisahan dengan Hujan Buatan

Selasa, 12 Mei 2026 - 00:46 WIB