TAGACEH – Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Aceh Jaya, Muslim HS, meminta kepastian terkait jadwal pelaksanaan Pekan Olahraga Aceh (PORA) XV yang akan diselenggarakan di Kabupaten Aceh Jaya.
Hal itu bertujuan untuk memberikan kejelasan bagi seluruh pihak yang terlibat, terutama tuan rumah dan kabupaten/kota peserta melakukan perencanaan teknis, pembinaan atlet, serta kesiapan logistik secara terencana dan maksimal.
Selain itu, kata Muslim, pihaknya mendukung wacana penggeseran PORA XV ke musim kering pada tahun berikutnya, mengingat kondisi cuaca ekstrem yang melanda Aceh belakangan ini.
“Pada prinsipnya kami mendukung wacana tersebut. Curah hujan tinggi di akhir tahun serta kondisi cuaca ekstrem berdasarkan data BMKG tentu harus menjadi pertimbangan,” ujar Muslim.
Selain faktor cuaca, kata Muslim, beberapa daerah di Provinsi Aceh yang masih fokus pemulihan pasca bencana banjir dan longsor, sehingga berpengaruh kesiapan daerah dalam melakukan pembinaan atlet.
“Beberapa kabupaten/kota masih fokus pada pemulihan pascabencana. Bahkan ada masyarakat yang masih berada di tenda pengungsian. Dalam kondisi seperti ini tentu sulit memaksimalkan persiapan atlet dan kontingen,” jelasnya.
Meski demikian, Muslim menegaskan keputusan terkait jadwal PORA sepenuhnya berada di tangan Pemerintah Aceh, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh, serta KONI Aceh. Ia berharap keputusan segera diambil mengingat PORA merupakan ajang olahraga terbesar di Aceh yang digelar setiap empat tahun sekali.
“Keputusan harus segera ditetapkan, apakah PORA tetap digelar akhir 2026 atau digeser. Kepastian ini penting agar seluruh kabupaten/kota dapat mempersiapkan kontingen secara maksimal,” tegasnya.
Muslim menambahkan, penggeseran jadwal PORA tidak boleh berdampak pada terhentinya pembangunan venue olahraga yang telah direncanakan dan dianggarkan pada tahun 2026. Ia meminta Pemerintah Aceh tetap berkomitmen melanjutkan pembangunan venue serta pengadaan peralatan pertandingan dan pendukung cabang olahraga.
“Jangan sampai karena penyelenggaraan ditunda, pembangunan venue ikut tertunda. Anggaran yang sudah dialokasikan harus tetap direalisasikan agar pembangunan tidak terbengkalai,” katanya.
Ia menyebutkan, sebagian besar venue yang dibangun pada tahun 2025 telah rampung. Sementara pembangunan stadion utama saat ini telah mencapai progres sekitar 55 persen dan akan dilanjutkan tahun ini.
“Target kami seluruh venue yang direncanakan pada 2026 tetap selesai tahun ini. Jika PORA digelar 2027, Aceh Jaya sebagai tuan rumah tinggal fokus pada pembentukan panitia besar dan perangkat penyelenggaraan,” ujarnya.
Apabila PORA tetap digelar pada akhir 2026, maka proses tender dan pembangunan venue yang direncanakan harus segera dimulai.
“Kalau atlet kami siap. Tapi untuk infrastruktur itu kewenangan pemerintah. Jika PORA tetap digelar akhir 2026, maka paling lambat awal tahun seluruh venue harus sudah ditender dan mulai dikerjakan,” pungkasnya.(*)
Penulis : Redaksi









