Kenduri Apam Rajab, Cara SMP Darun Nizham Menanamkan Siaga Bencana

- Jurnalis

Senin, 19 Januari 2026 - 16:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TAGACEH – Asap tipis membubung perlahan dari deretan tungku apam di halaman SMP Darun Nizham. Aroma gurih santan dan tepung beras yang terpanggang menyeruak, membelah udara pagi pesisir Teunom, Kabupaten Aceh Jaya. Suasana hangat itu mengalirkan kenangan, doa, sekaligus harapan.

Senin, 19 Januari 2026, bertepatan dengan penghujung bulan Rajab, sekolah yang berdiri di kawasan rawan bencana ini menggelar tradisi “Tot Apam” —membakar apam—sebuah kearifan lokal yang telah mengakar kuat dalam budaya Aceh. Namun hari itu, apam bukan sekadar sajian kenduri. Ia menjelma menjadi simbol ketangguhan, edukasi, dan perisai spiritual bagi masyarakat pesisir.

Tradisi ini dikemas oleh Tim Inovasi SANTANA (Sekolah Aman Tangguh Bencana) SMP Darun Nizham dalam tajuk “Kenduri Apam Serabi: Kearifan Lokal Aceh Tolak Bala, Cegah Bencana.” Sebuah ikhtiar merajut doa kepada Sang Pencipta dengan kesiapan mental menghadapi dinamika alam pesisir barat Aceh yang kian tak menentu.

Filosofi di Balik Tungku: Lembut di Hati, Tangguh Menghadapi Api

Dalam tradisi Aceh, Bulan Rajab identik dengan kenduri apam. Konon, ritual ini berakar dari kisah kerinduan seorang hamba kepada saudaranya yang telah tiada, yang diwujudkan dengan berbagi makanan berwarna putih dan bertekstur lembut—simbol kesucian dan keikhlasan.

“Apam ini simbol ketulusan. Teksturnya yang lembut melambangkan kelembutan hati untuk saling menolong saat bencana datang. Tapi proses pembakarannya di atas api panas adalah lambang ketangguhan mental yang harus dimiliki setiap warga sekolah,” ujar Kepala SMP Darun Nizham, Ridwan, S.Pd.I., M.A., M.Pd.

Bagi masyarakat Teunom, bencana bukan sekadar cerita. Banjir luapan sungai yang nyaris rutin dan trauma tsunami 2004 telah membentuk memori kolektif yang dalam. Melalui kenduri apam, sekolah ini menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya soal sirene dan jalur evakuasi, melainkan juga tentang kohesi sosial dan kekuatan spiritual.

Baca Juga :  Makna Bibalik Motif "Pinto Aceh"

SANTANA: Dari Lumpur Menuju Mercusuar Keselamatan

SMP Darun Nizham bukan sekolah yang steril dari bencana. Setiap musim hujan, lumpur dan genangan air kerap mengganggu aktivitas belajar mengajar. Lokasinya yang berada di wilayah rawan banjir membuat tantangan menjadi bagian dari keseharian.

Namun kondisi itu tak membuat sekolah ini menyerah. Justru dari sanalah lahir Program SANTANA, sebuah strategi masa depan yang menjadikan kesiapsiagaan sebagai budaya hidup.

“Kenduri apam ini adalah manifestasi visi besar kami. Kami ingin menjaga keselamatan generasi bangsa dengan melestarikan kearifan lokal. SANTANA bukan sekadar program di atas kertas, tapi nilai yang kami hidupi bersama,” tegas Ridwan di hadapan tamu undangan dan warga sekitar.

Melalui SANTANA, SMP Darun Nizham menjalin kemitraan lintas sektor—dari lembaga penanggulangan bencana, tokoh adat, hingga sekolah-sekolah mitra lintas kabupaten. Tujuannya satu: menjadikan literasi bencana sebagai milik bersama.

“Kami tidak ingin bergerak sendiri. Kesiapsiagaan harus dipahami dan dipraktikkan, bukan hanya dihafal lalu dilupakan,” tambahnya.

Ketua Panitia Pelaksana, Sulaiman, S.Pd., menjelaskan bahwa kenduri apam melibatkan seluruh elemen sekolah: siswa, guru, wali murid, hingga tetangga sekolah.

“Ini tentang transfer pengetahuan. Anak-anak Generasi Z dan Alpha harus tahu cara membuat apam, memahami maknanya, dan mengerti bagaimana budaya ini memperkuat solidaritas saat keadaan darurat,” ujarnya.

Suasana haru menyelimuti acara saat doa bersama dipanjatkan. Farida, S.Pd., Koordinator Lapangan kegiatan, tampak menahan air mata. Baginya, momen ini sangat emosional karena ia akan memasuki masa purna tugas pada pertengahan 2026.

“Ini pengalaman yang sangat berharga sebelum pensiun. Saya melihat anak-anak tidak hanya belajar teori, tapi mempraktikkan manajemen kegiatan, keramahan, dan kesiapsiagaan secara nyata,” tuturnya dengan suara bergetar.

Literasi Bencana yang Membumi

Baca Juga :  SMK Negeri 1 Panga Bagi 291 Paket Takjil Gratis Kepada Pengendara 

Guru SMP Darun Nizham, Selli Nuriputri, S.Pd, menegaskan bahwa dokumentasi budaya seperti kenduri apam adalah bagian penting dari literasi mitigasi bencana.

“Kita hidup di wilayah rawan gempa, banjir, dan tsunami. Melalui kegiatan ini, pesan-pesan kewaspadaan disisipkan secara halus tapi mengena. Kami ingin guru dan siswa memiliki mentalitas tangguh—tahu harus berbuat apa saat bencana datang,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, sekolah juga memperkenalkan media pendidikan kebencanaan berbasis nilai lokal, yang akan dipertukarkan dengan sekolah-sekolah mitra agar lahir “SANTANA-SANTANA” baru di seluruh Aceh.

Puncak acara ditandai dengan makan apam bersama, disajikan dengan kuah tuhe manis berisi pisang dan nangka. Di sela santapan, dialog lintas generasi pun mengalir. Para tokoh masyarakat berbagi pengetahuan tentang tanda-tanda alam—metode literasi kuno yang kini selaras dengan sains modern.

Dari kegiatan ini lahir komitmen bersama: pembersihan saluran air secara gotong royong, pelatihan simulasi evakuasi mandiri, serta penggunaan istilah lokal dalam edukasi bencana agar mudah dipahami masyarakat.

SMP Darun Nizham pun menjelma dari sekolah yang kerap menjadi korban bencana, menjadi pelopor keselamatan berbasis budaya.

Menutup acara, Ridwan menyampaikan pesan singkat yang sarat makna—sebuah slogan keselamatan di Aceh: “Na Ingat Seulamat” (Ingat Maka Selamat).

“Waspada, tenang, dan peduli adalah kunci keselamatan. Kenduri apam ini adalah cara kita bersyukur atas hari ini, sekaligus memohon perlindungan untuk hari esok,” ujarnya.

Hari itu, di pesisir Teunom, apam bukan lagi sekadar tepung beras dan santan. Ia menjadi doa yang membubung ke langit, dan semangat yang membumi—menjaga setiap jiwa di tanah rawan bencana. Dari Aceh, pesan itu kembali dikirim ke dunia: di tanah ujian, tumbuh manusia-manusia tangguh yang berpijak pada budaya, berusaha dengan ilmu, dan berserah dalam doa.

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Menikmati Senja di Ujung Pantai Lhoknga
Si Mata Biru Keturunan Portugis di Aceh Jaya
Makna Bibalik Motif “Pinto Aceh”
Pesona Pantai Jabi

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 12:13 WIB

Menikmati Senja di Ujung Pantai Lhoknga

Senin, 19 Januari 2026 - 16:51 WIB

Kenduri Apam Rajab, Cara SMP Darun Nizham Menanamkan Siaga Bencana

Selasa, 19 Agustus 2025 - 21:57 WIB

Si Mata Biru Keturunan Portugis di Aceh Jaya

Selasa, 19 Agustus 2025 - 09:02 WIB

Makna Bibalik Motif “Pinto Aceh”

Selasa, 1 April 2025 - 23:54 WIB

Pesona Pantai Jabi

Berita Terbaru

Pemkab Aceh Jaya

Yenni Elpiana Ditunjuk Jadi Plt Kepala Dishubtah Aceh Jaya

Selasa, 28 Apr 2026 - 21:21 WIB

News

Anggota TNI di Aceh Barat Putuskan Jadi Mualaf

Selasa, 28 Apr 2026 - 21:16 WIB

Pemkab Aceh Jaya

H Masri Dilantik Sebagai Sekda Definitif Aceh Jaya

Selasa, 28 Apr 2026 - 10:10 WIB