Film Dokumenter Raja Teunom Picu Debat Sengit, Ungkap Fakta Mengejutkan!

- Jurnalis

Minggu, 3 Agustus 2025 - 22:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TAGACEH – Uji tayang perdana film dokumenter “Sejarah Raja Teunom Teuku Imum Muda” di SMP Swasta Darun Nizham, Aceh Jaya, beberapa hari lalu, bukan hanya menyajikan kisah heroik Raja Teunom, tetapi juga memicu debat sengit yang berlanjut hingga ke kediaman generasi ke-5 Raja Teunom.

Diskusi yang awalnya berlangsung hangat di aula sekolah, mulai dari kiprah Raja Teunom sampai asal-muasal nama Teunom menjadi bahan diskusi. Perdebatan ini mengungkapkan fakta-fakta baru yang selama ini terpendam, mengarahkan pada penyempurnaan narasi sejarah Kerajaan Teunom yang selama ini hanya dikenal sebagian kecil publik.

Film yang awalnya ditujukan untuk menghidupkan kembali kisah heroik Raja Teunom dan penawan kapal dagang Inggris Nissero Questi (1883), malah memicu perdebatan yang mengungkap fakta-fakta baru, menantang narasi. Selama ini, Kerajaan Teunom kerap digambarkan sebagai wilayah kecil di pesisir pantai barat Aceh.

Namun, Teuku Marhaidi (63), generasi ke-5 keturunan Raja Teunom dari Desa Rambung Payong, Kecamatan Teunom, mengatakan hal yang sebaliknya. Ia, bersama dengan generasi penerusnya – Teuku Darmaidi Saputra dan Teuku Rezhal Yusdart (generasi ke-6), serta Teuku Muhammad Farzanata Al-Fatih dan Teuku Muhammad Rafif Alfurqan (generasi ke-7), menyatakan bahwa Kerajaan Teunom adalah sebuah kerajaan otonom di bawah Kesultanan Aceh Darussalam, bukan sekadar wilayah kecil.

Mereka menekankan kedaulatan dan otoritas pemerintahannya sendiri yang meliputi wilayah Panga dan Teunom, berbatasan langsung dengan Arongan. Lebih jauh lagi, mereka mengungkapkan bukti hubungan dagang Kerajaan Teunom yang erat dengan berbagai negara asing sebelum konflik besar dengan Belanda, dengan lada sebagai komoditas ekspor utama.

“Kerajaan Teunom bukanlah wilayah kecil yang terisolasi,” tegas Teuku Darmaidi Saputra, suaranya bergetar dipenuhi semangat dan keyakinan.

“Ini adalah entitas politik yang berdaulat, memiliki pemerintahan sendiri, dan memainkan peran penting dalam jaringan perdagangan internasional pada masanya. Narasi yang selama ini beredar hanya sebagian kecil dari kekuatan dan pengaruh Kerajaan Teunom.” Ujarnya.

Baca Juga :  Hari Pertama Sortir, KIP Aceh Jaya Temukan Satu Surat Suara Rusak

Perdebatan semakin memanas ketika narasi seputar agresi militer Belanda dibahas. Keturunan Raja Teunom menyoroti kemenangan Aceh dalam Agresi Pertama Belanda tahun 1873 yang mengakibatkan tewasnya Jenderal Kohler. Mereka juga menekankan peran penting Teuku Imum Muda yang memimpin 800 pasukan dari Teunom untuk membantu Sultan Mahmud Syah di Banda Aceh.

Meskipun Masjid Raya Baiturrahman dan Keraton jatuh ke tangan Belanda dalam Agresi Kedua (1874), Teuku Imum Muda dan sisa 300 pasukannya kembali ke Teunom dan melanjutkan perlawanan gerilya, mempertahankan wilayah kekuasaan mereka dengan gigih.

Gambar Kapal nissero

 

Namun, perdebatan mencapai puncaknya saat peristiwa penangkapan kapal Nissero Questi pada 8 November 1883 diulas kembali. Keturunan Raja Teunom mengungkapkan bahwa kapal yang awalnya dikira kapal perang Belanda tersebut sebenarnya adalah kapal dagang Inggris yang terdampar di perairan Panga.

Teuku Imum Muda, dengan strategi yang jenius, menguasai kapal tersebut dan membawanya ke pedalaman Teunom. Ini bukan sekadar tindakan penyanderaan, tetapi strategi diplomasi yang cerdik untuk menekan Belanda melalui Inggris, memicu babak baru dalam konflik Aceh-Belanda.

“Penyanderaan Nissero Questi bukanlah tindakan impulsif. Ini adalah strategi diplomasi yang cerdik. Teuku Imum Muda menggunakan kapal tersebut sebagai alat negosiasi, menunjukkan kecerdasan strategis yang luar biasa.” jelas Teuku Darmaidi Saputa.

Selain itu, Teuku Raja Lam Ilie, menantu Raja Teunom yang menikahi Cut Adeh Bareng, berasal dari Indrapuri dan membawa 7 pucuk meriam ke Teunom dan Panga. Meriam-meriam ini berperan penting dalam mengamankan kedaulatan kedua wilayah tersebut.

Ini menguatkan lagi status Kerajaan Teunom sebagai entitas politik yang kuat dan berdaulat, jauh melebihi gambaran yang selama ini beredar.

Baca Juga :  SMP Darun Nizham dan BPBK Aceh Jaya Gelar Peringatan HKB 2025

Untuk memperkuat narasi ini, Zulfitri Tiba (42), warga Desa Alue Piet, Kecamatan Panga, yang memiliki koleksi dokumen lengkap tentang kapal Nissero Questi, hadir sebagai narasumber.

Ia menunjukkan foto asli kapal tersebut sebelum namanya diubah. “Ini bukti nyata,” kata Zulfitri,

“Kami, warga Panga, bagian dari Kerajaan Teunom, merindukan replika kapal ini sebagai simbol semangat juang leluhur kami.” Harapnya.

Pernyataan Zulfitri semakin menguatkan tekad keturunan Raja Teunom untuk membangun replika keraton dan kapal Nissero Questi.

Ia berharap pemerintah daerah mendukung impian besar ini, menciptakan monumen sejarah yang menarik perhatian dunia.

Teuku Darmaidi Saputra menyebutkan Teungku Adam Glee Putoh sebagai salah satu prajurit Teuku Imum Muda yang bertugas menjaga awak kapal Nissero Questi.

Ia juga menjelaskan sistem pemerintahan Aceh saat itu, di mana sebuah wilayah harus memiliki minimal tiga mukim untuk diakui sebagai UB (Ulee Balang) dan mendapatkan cap stempel dari Sultan Aceh. Kerajaan Teunom, menurutnya, memiliki empat mukim, termasuk Panga, yang dipimpin oleh Teungku Puteh Panga.

Muhammad Ali (40), warga Kuta Tuha, Kecamatan Panga, bahkan mengungkapkan bahwa kakeknya terlibat langsung dalam penangkapan kapal Nissero Questi dan proses penyanderaan di Weu Gajah Pucok Teunom.

Debat sengit ini menunjukkan betapa kayanya sejarah Aceh dan betapa pentingnya penyempuranaan narasi sejarah ditulis berdasarkan fakta yang akurat. SMP Swasta Darun Nizham, di bawah kepemimpinan Ridwan, bersama Studio Central, berkomitmen untuk terus mengungkap fakta sejarah dan menyempurnakan film dokumenter.

“Sejarah Raja Teunom Teuku Imum Muda,” memastikan narasi yang akurat dan inspiratif bagi generasi muda. Peristiwa ini bukan hanya sebuah perdebatan sejarah, tetapi juga sebuah gerakan untuk menulis sejarah Aceh dengan lebih akurat.

Info selengkapnya tentang kapal Nissero klik disini https://www.wrecksite.eu/wreck.aspx?160714

Penulis : Ridwan MA

Berita Terkait

BUMG Kuta Tuha Salurkan Bantuan Sembako kepada 400 KK 
Polri Fasilitasi Permodalan KUR dan Penyerapan Bulog bagi Petani Jagung
Polres Aceh Jaya Gelar Apel Pasukan Operasi Keselamatan Seulawah 2026
Camat Krueng Sabee Kukuhkan IPELMAKS periode 2026-2027
Satpol PP Aceh Jaya Cegat Pencari Sumbangan Berkedok Dayah
Jelang PORA XV Aceh Jaya, Maxim Hadir di Wilayah Krueng Sabee
STAIN Meulaboh dan Dayah Darul Muta’allimin Salurkan Bantuan Mitra Malaysia untuk Korban Banjir
SMP Darun Nizham Raih Juara Umum Kemitraan SANTANA

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 17:33 WIB

BUMG Kuta Tuha Salurkan Bantuan Sembako kepada 400 KK 

Sabtu, 7 Februari 2026 - 22:34 WIB

Polri Fasilitasi Permodalan KUR dan Penyerapan Bulog bagi Petani Jagung

Senin, 2 Februari 2026 - 10:38 WIB

Polres Aceh Jaya Gelar Apel Pasukan Operasi Keselamatan Seulawah 2026

Jumat, 30 Januari 2026 - 21:38 WIB

Camat Krueng Sabee Kukuhkan IPELMAKS periode 2026-2027

Kamis, 22 Januari 2026 - 23:01 WIB

Satpol PP Aceh Jaya Cegat Pencari Sumbangan Berkedok Dayah

Berita Terbaru

Pemkab Aceh Jaya

Bupati Buka Muswil III MUNA Aceh Jaya

Kamis, 12 Feb 2026 - 17:25 WIB

Pemkab Aceh Jaya

Bupati Aceh Jaya Terbitkan SE Gotong Royong Massal 13 Februari 2026

Kamis, 12 Feb 2026 - 02:14 WIB