TAGACEH — Warga Desa Lawet, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, mengaku khawatir dan resah akibat aliran sungai yang terus mengarah ke permukiman dan menyebabkan tanah, rumah warga, dan lahan pertanian terkikis.
Kondisi ini muncul pascabanjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025 lalu.
Dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Muktaruddin Pakeh, Kamis (1/1/2026), mengaku sangat prihatin setelah meninjau langsung kondisi desa tersebut.
“Setelah kami cek kembali pascabanjir bandang, kondisi Desa Lawet sangat memprihatinkan. Sedikit demi sedikit tanah dan rumah warga hilang akibat arus sungai yang mengarah langsung ke desa,” kata Muktaruddin kepada tagaceh.com.
Menurutnya, saat ini masyarakat hidup dalam kekhawatiran karena air sungai dengan mudah meluap ke permukiman setiap kali hujan turun.
“Sekarang hujan sedikit saja air sudah meluap ke desa. Jika tidak ada tindakan cepat dan tanggap darurat, bukan tidak mungkin Desa Lawet bisa hilang dari wilayah Kecamatan Pante Ceureumen,” ujarnya.
Muktaruddin bersama para pemuda Desa Lawet meminta pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret, salah satunya dengan melakukan pengalihan arus sungai ke jalur semula guna mencegah kerusakan yang lebih luas.
Selain permukiman, dampak banjir bandang juga merusak lahan pertanian warga. Sawah-sawah yang menjadi sumber penghidupan masyarakat kini tidak dapat digarap karena tertutup lumpur dan gelondongan kayu.
“Sawah masyarakat sudah tidak bisa digunakan untuk bertani karena masih berlumpur dan dipenuhi kayu. Kami sangat berharap alat berat dapat diturunkan agar lahan pertanian warga bisa pulih kembali,” tambahnya.
Warga berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait segera turun tangan melakukan penanganan darurat demi menyelamatkan Desa Lawet dari ancaman erosi sungai yang semakin parah.(*)
Penulis : Redaksi









