TAGACEH – Ditengah hiruk-pikuk modernisasi pendidikan yang sering kali hanya mengejar angka di atas kertas, sebuah gerakan penuh inpirasi yang menggetarkan jiwa lahir dari pelosok Aceh. SMP Darun Nizham, melalui inovasi SANTANA (Sekolah Aman Tangguh Bencana), membuktikan bahwa kurikulum terbaik bukanlah yang dihafal, melainkan yang dirasakan melalui empati.
Senin sore (26/01/26), api melalap sebuah rumah di Gampong Lhok Malee, Kecamatan Woyla Barat, Aceh Barat. Arus pendek listrik mengubah bangunan milik Abdurrahman (50) menjadi abu hanya dalam hitungan menit.
Di sisi lain, rumah Suhelmi (36), salah satu wali siswa dari Muhammad Mizam, turut terdampak hebat. Namun, di balik puing yang menghitam itu, sebuah pelajaran kemanusiaan yang luar biasa justru sedang dimulai.
Gerak Cepat “Pasukan Empati” SANTANA. Begitu kabar musibah sampai ke telinga keluarga besar SMP Darun Nizham, mesin kemanusiaan SANTANA langsung menderu.
Sulaiman, S. Pd., selaku Koordinator Lapangan (Korlap) Tanggap Darurat, tidak menunggu instruksi panjang. Baginya, tanggap darurat adalah soal panggilan kecepatan hati.
“Kami tidak mengandalkan program besar yang muluk-muluk. Yang penting adalah dampak nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat di masa genting,” ujar Sulaiman tegas.
Hanya dalam waktu singkat di pagi hari, donasi internal terkumpul sebesar Rp1.028.000, serta 120 kg paket bantuan berupa mukena, sajadah, dan pakaian layak pakai. Angka mungkin kecil bagi sebagian orang, namun bagi mereka yang kehilangan segalanya, ini adalah simbol bahwa mereka tidak sendirian.
Tangis yang Pecah di Bawah Tenda. Rabu pagi, rombongan SANTANA bertolak menuju lokasi. Bukan sekadar mengantar bantuan, sekolah memilih menghadirkan para siswa langsung ke lokasi musibah. Tujuannya satu Trauma Healing melalui koneksi batin.
Kepala SMP Darun Nizham, Ridwan, S. Pd. I., M. A., M. Pd., memimpin langsung rombongan ini. Suasana seketika berubah mencekam oleh keharuan saat Muhammad Mizam, sang siswa, dipertemukan dengan orang tuanya yang kini harus berteduh di bawah tenda darurat.
“Saya tak mampu membendung air mata. Melihat anak didik saya bersimpuh di depan orang tuanya yang sedang tertimpa musibah, di depan rumah yang sudah jadi puing… itu adalah puncak dari semua pembelajaran karakter yang kami ajarkan,” ungkap Ridwan dengan suara bergetar.
Keharuan itu menular. Seluruh tim, mulai dari guru hingga siswa, terdiam dalam isak tangis. Tgk. Jhon Agusni, tenaga administrasi sekaligus guru ngaji yang ikut ke lokasi, mengaku hatinya teriris melihat tangan ringkih para wali siswa menerima paket ibadah dari hasil galangan OSIS dan dewan guru.
“Melihat mereka menerima mukena dan sajadah untuk tetap bisa bersujud kepada Allah di tengah ujian ini, itu pemandangan yang luar biasa mengharukan,” kenang Tgk. Jhon.
Inovasi Berbasis Kewarasan Mental. Bagi Ridwan, program SANTANA ini adalah bagian dari visi besar untuk mencetak Generasi Emas Aceh yang tangguh secara mental. Menurutnya, kesiapsiagaan bencana bukan lagi soal bunyi sirine yang meraung, tapi soal kesiapan jiwa menghadapi kehilangan.
“Kami melatih siswa menjadi garda terdepan bangsa yang peduli. Dengan melihat langsung rumah yang terbakar, mereka belajar tentang realitas hidup, tentang syukur, dan tentang tanggung jawab sosial,” tambah Ridwan.
Suhelmi (36), orang tua dari Mizam, mengaku sangat tersentuh. Baginya, kehadiran sekolah bukan hanya membantu secara fisik, tapi mengobati luka batinnya. “Saya berterima kasih sekali. Sekolah bukan hanya mengajar anak saya mengaji dan berhitung, tapi juga peduli sampai ke dapur kami yang terbakar. Fasilitas trauma healing ini membuat anak kami tidak merasa sendirian menghadapi musibah ini,” tuturnya haru.
Menjadi Inspirasi Indonesia. Aksi nyata SMP Darun Nizham melalui SANTANA menjadi tamparan lembut bagi dunia pendidikan kita. Di tengah desa, sekolah ini mengajarkan bahwa inovasi tidak harus selalu soal teknologi digital, melainkan soal Inovasi Hati dengan penuh kepedulian sosial.
Ketika siswa diajarkan untuk menangis bersama mereka yang berduka, di situlah kemanusiaan sedang dirawat. SANTANA telah membuktikan bahwa dari Aceh Jaya, semangat kepedulian bisa menyulut api inspirasi ke seluruh penjuru Indonesia. Bahwa di setiap puing bencana, selalu ada harapan yang bisa dibangun kembali melalui tangan-tangan kecil yang peduli.(*)
Penulis : Redaksi









